JAMBI, Reportase8.com – Kontestasi politik menjelang perhelatan Pilwako Jambi 2024 mulai tampak, kepindahan Maulana dari Partai NasDem ke Partai PAN menyisahkan tanda tanya besar di Publik. Maulana sebelumnya tampak akrab bersama Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Jambi H. Syarif Fasha sekaligus pada saat itu masih menjabat Walikota Jambi, disetiap moment tidak terelakan, setiap kegiatan Walikota pasti selalu didampingi oleh wakilnya Maulana, tidak segan segan Fasha juga turut mempromosikan Maulana sebagai Calon Walikota Jambi selanjutnya menggantikan dirinya.
Terpantau di lapangan saat detik detik terakhir purna bakti Syarif Fasha menjadi Walikota Jambi yang dimeriahkan oleh grup Band Radja bertempat di lapangan Balaikota, Fasha pun dengan semangat menyerukan untuk dukung Maulana, sebagai Walikota selanjutnya, hal itu tidak senada dengan Syarif Fasha yang merupakan Ketua DPW NasDem Provinsi Jambi, Maulana menjawabnya dengan berpindah Partai dan berlabuh di PAN.
Diketahui bersama pasangan Fasha Maulana sebelumnya digandeng oleh dua Partai besar Golkar dan Gerindra, dalam proses perjalananya, Syarif Fasha berpindah partai dan ditunjuk menjadi Ketua DPW NasDem sedangan Maulana sebelumnya dari Partai Gerindra pun ikut pindah dan berlabuh ke Partai NasDem dan sekarang di PAN.
Menurut pengamat Jambi, Nasroel Yasier Fenomena politisi yang berpindah dari satu partai ke partai politik lain atau biasa disebut ‘lompat pagar’, dan bukan hal yang baru dalam dunia politik di Indonesia. Ada banyak alasan yang mendasari mengapa para kader partai berpindah menjadi kader partai lainnya. Satu kenyataan bahwa faktor yang mendorong berpindahnya seseorang dari satu partai ke partai lain akibat dari oportunisme yang melekat. Namun pada saat bersamaan, para kader yang karena alasan-alasan tertentu berpindah menjadi kader partai politik yang lain.
Nasroel juga menambahkan Fenomena seseorang yang berpindah ke partai lain bisa adanya terlibat konflik internal yang membuat seseorang kader tidak lagi merasa nyaman atau adanya perubahan orientasi politik visi dan misi di dalam partai tersebut sehingga mendorong untuk berpindah. Praktik perpindahan kader tersebut pada akhirnya memunculkan pertanyaan mengenai loyalitas dan ideologi politik yang dianut, karena belum tentu Parpol baru yang ia masuki memiliki kesamaan ideologi. Keputusan untuk berpindah Parpol menimbulkan kesan hanyalah untuk kepentingan diri sendiri atau bisa dikatakan langkah cepat dalam memuluskan karir politiknya dalam meraih kekuasaan.
Terkait kepindahan Maulana yang berpindah partai dari NasDem ke PAN, Nasroel mengungkapkan “Hal tersebut biasa terjadi di Politik Indonesia. Artinya itu hal biasa, tetapi ada point yang harus dicatat dan diingat, kita menjunjung budaya ketimuran sehingga apabila ada kader Partai yang ingin berpindah ke Partai lain, harapannya menjunjung Etika politik, masuk secara baik baik keluar atau pindah pun harusnya secara baik baik bukan nyelonong saja’ ungkap Nasroel Yasier. Rabu (15/11/2023)
Sementara Wakil Ketua DPW Nasdem Provinsi Jambi, Arsaniadil Fajri, mengaku telah mendapat informasi jika Maulana bergabung ke PAN sejak sepekan lalu.
“Seminggu yang lalu sudah dapat informasi, saat dia izin keluar grup DPW. Saat itu ketua DPW pak Fasha mengatakan, apapun pilihan sahabat maulana kita terima,” ujarnya.
Ditanya soal apakah Maulana sudah mengajukan surat pengunduran diri, Fajri mengatakan, bahwa dengan bergabungnya Maulana ke PAN dengan sendirinya status kadernya di Nasdem hilang.
“Ketika dia sudah masuk Partai lain otomatis sudah hilang status kadernya. Namun kan pengunduran diri ini sebenarnya tanggung jawab moral. Masuk baik-baik tentu harusnya mau keluar juga demikian. Kalau secara moral harusnya mengajukan pengunduran diri secara resmi,” tegasnya.













Discussion about this post