JAMBI, Reportase8.com – Muaro Tembesi merupakan salah satu wilayah bersejarah di Provinsi Jambi yang memiliki peran penting sejak masa kerajaan, kolonial Belanda, hingga awal kemerdekaan Indonesia. Sebelum menjadi kecamatan di Kabupaten Batanghari, kawasan ini dikenal sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda di wilayah pedalaman Jambi sekaligus menjadi titik strategis dalam penguasaan jalur transportasi Sungai Batanghari.
Jejak sejarah pendudukan Belanda dan Jepang di Provinsi Jambi masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah, salah satunya di Kecamatan Muaro Tembesi. Di kawasan ini berdiri Tugu Kedaulatan yang dibangun untuk mengenang penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia di Provinsi Jambi.
Peristiwa bersejarah tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Mohammad Hatta, sementara Jambi diwakili oleh Letnan Kolonel Abunjani. Monumen tersebut hingga kini menjadi simbol perjuangan dan tonggak sejarah kembalinya kedaulatan Indonesia di Jambi.
Jauh sebelum masa kemerdekaan, Muaro Tembesi telah dikenal sebagai kawasan penting yang diyakini pernah menjadi pusat Kerajaan Melayu Kuno. Letaknya yang berada di pertemuan tiga aliran sungai menjadikan wilayah ini sebagai jalur perdagangan dan pusat aktivitas ekonomi yang strategis pada masanya.
Di tengah masyarakat juga berkembang cerita turun-temurun mengenai asal-usul nama “Tembesi”. Konon, seorang raja memerintahkan seorang hulubalang atau menterinya mengambil segelas air sungai. Setelah ditimbang, air tersebut memiliki berat “satu besi”, yang kemudian dipercaya menjadi asal penamaan Tembesi. Kisah ini merupakan tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sejarah Muaro Tembesi juga disebut terekam dalam berbagai arsip dan koleksi museum di Belanda, termasuk di Het Nationaal Archief dan Tropenmuseum. Dokumen tersebut antara lain memuat catatan ekspedisi militer Belanda, pelarian Sultan Thaha Syaifuddin ke Muaro Tembesi pada akhir abad ke-19, dokumentasi foto kawasan Sungai Batanghari, peta tata kota kolonial, hingga catatan mengenai proses transisi kedaulatan di Jambi.
Selain itu, Muaro Tembesi masih menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah, di antaranya bekas pusat pemerintahan kolonial, kompleks perumahan Belanda yang dibangun menggunakan kayu Tembesi dan kayu Bulian, benteng pertahanan yang dilengkapi meriam, serta berbagai bangunan administrasi seperti kantor pos, kantor polisi, penjara, kantor wedana, dan rumah demang.
Sebagian bangunan peninggalan kolonial tersebut masih dapat ditemukan hingga saat ini dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Muaro Tembesi sebagai salah satu kawasan penting di Provinsi Jambi.
Melihat besarnya nilai sejarah yang dimiliki kawasan tersebut, Lembaga Wahana Global Jambi (WaGJi) yang bergerak di bidang konservasi hutan, lingkungan, advokasi, dan pelestarian cagar budaya, mendorong Pemerintah Kabupaten Batanghari untuk segera melakukan revitalisasi terhadap berbagai situs cagar budaya dan peninggalan sejarah masa kolonial Belanda maupun pendudukan Jepang yang tersebar di wilayah Batanghari.
Menurut WaGJi, berbagai peninggalan sejarah tersebut memiliki nilai historis, edukatif, dan budaya yang sangat penting bagi generasi masa kini maupun mendatang.
“Pelestarian cagar budaya tidak hanya menjaga jejak sejarah bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan budaya yang menghargai warisan masa lalu sebagai identitas daerah. Jika tidak segera direvitalisasi, dikhawatirkan banyak situs bersejarah mengalami kerusakan bahkan hilang,” ujar Perwakilan WaGJi, Hendra. Selasa, (30/6/2026)












Discussion about this post