JAMBI, Reportase8.com – Pantai Timur Jambi menjadi lokasi persinggahan ribuan burung air migran antarbenua yang terbang dari Asia Timur menuju Australia setiap musim migrasi, yakni pada Agustus hingga April.
Koordinator Coastal Wetland SCS-SAP Project Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB University, Eko Budi Priyanto, mengatakan hasil penelitian Tim Kelompok Kerja (Pokja) Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) pada 2025 mencatat lebih dari 1.000 individu dari 24 jenis burung pantai bermigrasi di kawasan tersebut dalam satu waktu.
“Kami juga mencatat ada tiga jenis burung pantai migran yang berstatus terancam punah atau Endangered (EN) berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN),” kata Eko.
Menurut Eko, KEE yang kini dikenal sebagai Area Preservasi Pantai Cemara merupakan kawasan dengan nilai ekologis tinggi. Selain memiliki habitat mangrove dan dataran lumpur, kawasan ini menjadi lokasi persinggahan sekaligus tempat mencari makan bagi burung air migran yang melintasi jalur terbang Asia Timur–Australasia (East Asian-Australasian Flyway/EAAF).
Setiap musim migrasi, ribuan burung memanfaatkan kawasan Pantai Cemara untuk beristirahat dan mencari makan. Beberapa di antaranya adalah trinil nordmann (Tringa guttifer), gajahan timur (Numenius madagascariensis), dan kedidi besar (Calidris tenuirostris).
Ia menegaskan, kawasan tersebut tidak hanya penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menopang kehidupan masyarakat pesisir. Ekosistemnya berfungsi menjaga pasokan air, mengurangi risiko bencana, serta membantu meredam dampak perubahan iklim.
“Kawasan ini juga sangat penting dalam menjaga fungsi ekologis wilayah penyangga Taman Nasional Berbak Sembilang,” ujarnya.
Karena nilai ekologis tersebut, Forum Kolaborasi Pengelola Ekosistem Esensial Pantai Cemara dibentuk melalui SK Gubernur Jambi Nomor 398/Kep.Gub/Dishut-3.3/2019 tanggal 18 Maret 2019 sebagai wadah pengelolaan kawasan secara kolaboratif.
Untuk mengidentifikasi capaian, pembelajaran, dan tantangan dalam pengelolaan kawasan, PKSPL IPB University bersama anggota forum kolaborasi melaksanakan penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) pada 23 Juni 2026 di Jambi. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Proyek South China Seas Strategic Action Programme (SCS-SAP), hasil kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), United Nations Office for Project Services (UNOPS), dan PKSPL IPB University.
Pelaksana Tugas Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Yuliana, mengatakan METT telah digunakan di Indonesia untuk mengukur efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di tingkat tapak.
“Selama dua hari, yakni 23 dan 25 Juni 2026, sebanyak 31 peserta yang mewakili 22 anggota forum kolaborasi KEE mengikuti penilaian efektivitas pengelolaan kawasan untuk mendukung pengelolaan berkelanjutan di masa depan,” ujarnya.
Yuliana menjelaskan, METT versi 4.4 merupakan versi terbaru yang dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan kawasan konservasi di tengah perubahan iklim. Instrumen ini menilai aspek yang lebih komprehensif, termasuk kondisi habitat dan satwa indikator kunci sebagai penanda kesehatan ekosistem.
“Penilaian ini menjadi kompas ekologis untuk mengetahui apakah kawasan masih berada dalam kondisi sehat sebagai habitat persinggahan burung migran,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap dapat menghasilkan rekomendasi teknis serta memperkuat mekanisme kolaborasi berbagai pihak dalam pengelolaan Area Preservasi Pantai Cemara dan kawasan penyangga Taman Nasional Berbak Sembilang secara berkelanjutan.













Discussion about this post