REPORTASE8.COM – Jumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti pelatihan untuk program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) kembali bertambah. Kini total lima peserta dilaporkan meninggal.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen Ketut Gede Wetan, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya para peserta. Menurutnya, setiap peserta memiliki kondisi kesehatan dan karakteristik yang berbeda-beda serta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan.
Terlepas dari penyebab medis masing-masing peserta, peristiwa ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai kesesuaian metode pelatihan dengan tujuan program.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) merupakan salah satu program pemerintah yang sejak awal menuai beragam kritik, selain program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berbagai persoalan bermunculan, mulai dari mekanisme operasional yang dinilai belum jelas, potensi pemborosan anggaran, hingga kekhawatiran bahwa keberadaan koperasi tersebut justru akan mematikan usaha kelontong milik masyarakat.
Kini sorotan publik beralih kepada proses perekrutan dan pembinaan calon manajer koperasi. Selain mempertanyakan transparansi seleksi, masyarakat juga mempertanyakan bentuk pelatihan yang diterapkan. Alih-alih lebih banyak dibekali ilmu manajemen, kepemimpinan bisnis, atau pengelolaan koperasi, para peserta justru mengikuti latihan bergaya militer seperti baris-berbaris, tinggal di barak, hingga berlatih menembakkan senjata api.
Disiplin memang merupakan nilai yang penting bagi setiap profesi. Namun, bentuk disiplin yang dibutuhkan seorang manajer koperasi tentu berbeda dengan disiplin yang dirancang untuk seorang prajurit.
Bayangkan Anda adalah direktur utama sebuah perusahaan taksi online. Suatu hari Anda membuka lowongan untuk posisi pengemudi dan mendapati sebagian besar pelamar belum pernah bekerja sebagai sopir profesional. Langkah yang paling masuk akal tentu memberikan pelatihan mengemudi menggunakan mobil yang akan mereka gunakan sehari-hari.
Anda tentu tidak akan meminta mereka berlatih menggunakan mobil Formula 1 di Sirkuit Monako. Keduanya memang sama-sama mengemudi, tetapi kebutuhan, tingkat kesulitan, dan tujuan akhirnya sangat berbeda. Mobil Formula 1 dirancang untuk pembalap profesional, bukan untuk melatih sopir taksi.
Analogi yang sama dapat diterapkan pada pelatihan calon manajer koperasi. Jika tujuan akhirnya adalah mengelola lembaga ekonomi masyarakat, maka materi pelatihan semestinya lebih banyak berfokus pada kemampuan manajerial, kepemimpinan organisasi, pengelolaan keuangan, penyelesaian konflik, serta pelayanan kepada anggota koperasi.
Sebagian pihak mungkin berpendapat bahwa latihan fisik dan kedisiplinan ala militer bertujuan membentuk mental yang tangguh. Gagasan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun, ketangguhan juga memiliki banyak bentuk.
Seorang pelaku usaha kecil yang bertahun-tahun menghadapi naik turunnya pendapatan, kehilangan modal akibat kondisi ekonomi, atau harus bekerja tanpa mengenal hari libur demi mempertahankan usahanya, juga memiliki ketangguhan yang tidak kalah besar. Ketangguhan seorang pengelola usaha lahir dari kemampuan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, bukan semata-mata dari latihan fisik.
Karena itu, kesesuaian antara metode pelatihan dan kompetensi yang ingin dibangun menjadi hal yang sangat penting. Ketika metode yang digunakan tidak selaras dengan tujuan akhir, risiko yang muncul bukan hanya ketidakefektifan pelatihan, tetapi juga potensi terjadinya musibah.
Kini, lima calon manajer Kopdes telah meninggal dunia selama mengikuti pelatihan. Terlepas dari penyebab kematian masing-masing peserta, angka tersebut sudah cukup menjadi alasan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain program. Satu korban jiwa saja sudah merupakan tragedi. Apalagi jika jumlahnya terus bertambah.
Pada akhirnya, seluruh perdebatan mengenai metode pelatihan, pola pembinaan, hingga mekanisme seleksi akan bermuara pada satu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya tujuan utama Program Koperasi Desa Merah Putih?
Selama pertanyaan itu belum dijawab secara jelas, berbagai kontroversi yang mengiringi program ini kemungkinan akan terus bermunculan.













Discussion about this post