Jakarta – Penipisan gletser yang terjadi di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, sangat mengkhawatirkan. Bahkan lapisan es tersebut diperkirakan bakal lenyap tahun 2026.
Buat masyarakat adat di sekitar puncak, gunung bersalju dianggap sakral. Area ini juga menjadi habitat bagi satwa langka termasuk Dingo, anjing bernyanyi dari Papua.
Proses penipisan Salju Abadi tersebut terjadi paling cepat pada tahun 2024. Menurut laporan, luas tutupan es salju yang berketinggian 4.884 di atas permukaan laut itu menciut sampai 98%.
Dari awalnya 19,3 km persegi pada 1850 dan menjadi 0,34 km persegi pada 2020. Data dari satelit Sentinel-2A menunjukkan penyusutan yang mengkhawatirkan.
Dari sekian banyak puncak, ada satu puncak sakral yang dinamai masyarakat adat Moni sebagai “Gunung Somatua”. Somatua dipercaya menjadi penerang dan cahaya bagi mereka.
Salah satu warga setempat mengungkapkan bahwa Somatua berasal dari bahasa setempat yang berarti terang sepanjang siang dan malam.
“Kalau siang dari cahaya matahari, kalau malam dari (pancaran) es. Kalau es hilang, maka cahaya akan hilang,” ujarnya.
Maximus serta masyarakat adat Suku Moni lainnya adalah satu dari beberapa suku yang tinggal di daerah pegunungan di Papua Tengah.
Kampungnya, Ugimba, adalah desa tertinggi di Indonesia yang berada di 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Ugimba berada di sekitar tiga puncak bersalju di Papua yang merupakan puncak tertinggi antara Gunung Himalaya dan Pegunungan Andes. Ketiganya yakni Puncak Carstensz (4.884 mdpl), Puncak Sumantri (4.808 mdpl) dan Puncak Ngga Pulu atau Soekarno (4.862 mdpl).
Jika ditarik garis lurus dari Ugimba ke Carstensz, jarak keduanya yakni 36 kilometer. Meski demikian, jalur pendakian bisa jauh lebih panjang dari angka tersebut.
Pada awal abad 20, saintis memetakan tutupan atau lapisan es yang disebut gletser di kawasan pegunungan ini. Setidaknya, terdapat tujuh puncak bersalju, yakni East Northwall Firn, West Northwall Firn, Meren, Carstensz, Wollaston, Van de Water, dan Southwall Hanging.
Namun, karena perubahan suhu dan iklim, kini salju yang ditemukan hanyalah East Northwall Firn dan Carstensz.
Citra satelit yang dikumpulkan situs urun daya Soar.Earth di bawah menunjukkan perubahan yang drastis pada tiga periode berbeda.
Salju di Puncak Jaya tercipta karena wilayah tersebut memiliki suhu sangat rendah, di bawah 0 derajat Celsius. Selain itu, kandungan uap airnya cukup tinggi. Jika terjadi dalam waktu lama, salju akan terakumulasi dan membentuk lapisan es atau gletser.
Gletser Papua sendiri merupakan gletser tropis terakhir di wilayah Pasifik Barat. Namun gletser ini sudah mencair sejak revolusi industri, sekitar tahun 1850-an. Emisi dari aktivitas industri menyumbang besar terhadap konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.













Discussion about this post