JAKARTA, Reportase8.com – Salah satu situs bersejarah di Kota Jambi yang dikenal sebagai Rumah Batu Olak Kemang dinilai perlu segera direvitalisasi. Bangunan yang diperkirakan berdiri pada abad ke-18 ini dibangun oleh saudagar keturunan Arab Hadhramaut, Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri yang bergelar Pangeran Wirokusumo.
Rumah Batu berlokasi di Jalan K.H.A. Qodir Ibrahim, Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Keunikan bangunan ini terletak pada arsitekturnya yang memadukan unsur budaya Eropa, Tionghoa, dan Melayu sehingga menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Lembaga Wagji yang selama ini konsisten bergerak di bidang konservasi hutan, lingkungan, advokasi, seni, dan budaya menilai revitalisasi Rumah Batu sangat penting dilakukan oleh Pemerintah Kota Jambi melalui kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan, khususnya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jambi. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga kelestarian bangunan bersejarah sekaligus meningkatkan wawasan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap sejarah daerah.
Saat berkunjung ke Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi, Wagji mengapresiasi langkah yang telah dilakukan jajaran Kementerian Kebudayaan. Menurut Wagji, pihak BPK telah menjalin komunikasi dan bersilaturahmi dengan Pemerintah Kota Jambi guna membangun sinergi dalam merevitalisasi Rumah Batu di kawasan Seberang Kota Jambi.
“Kami dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi bersama para ahli telah bertemu dengan Bapak Wali Kota Jambi, dr. Maulana, untuk bersinergi dalam kegiatan revitalisasi Rumah Batu di Olak Kemang, Seberang Kota Jambi. Alhamdulillah, sambutannya sangat baik,” ungkap salah seorang tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi.
Sebelumnya, Wagji juga telah bersilaturahmi dengan mantan Penjabat Wali Kota Jambi, Sri Purwaningsih, menanyakan kembali usulan revitalisasi Rumah Batu Olak Kemang. Program tersebut telah diusulkan kepada Kementerian Kebudayaan dan diharapkan dapat terus didorong hingga segera terealisasi.
Ketua Tim Pengawas Wagji di Jakarta Tapo Tarsisius, mengatakan revitalisasi bangunan bersejarah merupakan langkah penting untuk menjaga identitas lokal, mencegah bangunan terbengkalai, serta memberikan fungsi baru yang bernilai ekonomi tanpa menghilangkan nilai sejarah dan keasliannya.
“Menjaga identitas dan warisan budaya berarti menjaga peninggalan sejarah sebagai memori kolektif dan saksi bisu perjalanan peradaban. Revitalisasi memastikan warisan tersebut tidak punah dan tetap menjadi kebanggaan generasi masa kini maupun generasi mendatang,” ujar Tarsisius. Selasa, (7/7/2026)
Ia menambahkan, revitalisasi juga memiliki dampak positif terhadap sektor ekonomi dan pariwisata. Bangunan bersejarah yang dimanfaatkan sebagai museum, ruang publik, atau destinasi wisata dapat meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, bangunan bersejarah yang telah dipugar juga dapat difungsikan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dan generasi muda untuk mempelajari sejarah, arsitektur, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Revitalisasi juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan (sustainability). Mempertahankan dan memperbaiki bangunan yang sudah ada jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan merobohkannya untuk membangun struktur baru karena dapat meminimalkan limbah konstruksi,” ungkap Tarsisius.
Tersisius juga menegaskan bahwa kawasan Seberang Kota Jambi pun memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang patut dijaga.
Menurutnya, peninggalan sejarah di kawasan tersebut bukan hanya Rumah Batu, tetapi juga deretan rumah-rumah panggung tradisional yang hingga kini masih berdiri dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Ia mengatakan, rumah-rumah panggung tersebut memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan budaya yang sangat menarik sehingga perlu mendapat perhatian serius untuk dilestarikan. Keberadaannya dinilai mampu menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kekhasan Seberang Kota Jambi kepada masyarakat luas.
“Tidak hanya Rumah Batu, rumah-rumah panggung yang masih ada di Seberang Kota Jambi juga merupakan peninggalan bersejarah yang sangat menarik. Ini adalah aset budaya yang harus dipertahankan,” ujar Tersisius.
Ia berharap Pemerintah Kota Jambi dapat berkolaborasi dengan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan rumah-rumah panggung tersebut agar tidak hilang akibat perkembangan zaman. Menurutnya, pelestarian bangunan bersejarah harus menjadi tanggung jawab bersama demi menjaga warisan budaya untuk generasi mendatang.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Tersisius optimistis kawasan Seberang Kota Jambi dapat berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal yang dimiliki.













Discussion about this post