JAMBI, Reportase8.com – Ibadat Jumat Agung adalah peringatan wafat Yesus Kristus di kayu salib, yang dirayakan pada hari Jumat sebelum Paskah dengan suasana duka, hening, dan reflektif.
Dalam tradisi Katolik, ini bukan misa Ekaristi, melainkan ibadat khusus (Liturgi Sabda, Penghormatan Salib, Komuni) untuk merenungkan kasih dan penebusan dosa manusia melalui pengorbanan Yesus.
Suasana ibadat berlangsung khidmat dengan imam mengenakan kasula warna merah (simbol darah/kasih) dan tidak adanya iringan musik instrumen untuk menegaskan suasana berkabung.
Ratusan umat Katolik Gereja Teresia Jambi mengikuti Jumat agung sangat khidmat, dalam ibadah Jumat agung pun dibacakan drama suara tentang Kisah sengsara Yesus Kristus. Ibadah Jumat agung dilaksanakan pada Jumat 3 April 2026.
Ibadah Jumat agung dipimpin oleh 2 Romo yakni Pastor Paroki Gereja Katolik Santa Teresia Jambi Romo F.X. Tri Priyo Widarto Scj dan Romo Ngatijan Scj.
Dalam Homilinya Romo Ngatijan Scj menyampaikan bagaimana makna kata “haus” dalam kisah sengsara Yesus dimana tanda kemanusiaan Yesus yang sejati, kerinduan mendalam akan kasih manusia, serta penggenapan nubuat Kitab Suci demi menebus dosa. Sedangkan Salib melambangkan pengorbanan tertinggi, kasih Allah yang tak terhingga, dan penebusan dosa manusia.
Romo Ngatijan Scj mengajak umat selalu bersyukur akan semua keadaan yang kita alami, Salib terkadang membuat kita berat memukulnya, tetap Salib juga terkadang membuat kita selalu bersyukur.
Upacara biasanya dilaksanakan pada sore hari, pada misa pertama pukul 14.00 wib. Suasana ibadat ditandai dengan keheningan yang mencekam, di mana para imam bersujud di depan altar yang telanjang tanpa hiasan apa pun.
Ritus Penghormatan Salib menjadi momen sentral di mana umat maju satu per satu untuk mencium atau memberi hormat pada kayu salib. Tindakan ini merupakan ekspresi kasih dan rasa syukur atas pengorbanan Yesus yang menjadi jalan keselamatan bagi setiap orang beriman.
Meski diliputi duka, Jumat Agung bagi umat Katolik bukanlah sebuah akhir yang sia-sia, melainkan kemenangan atas maut yang penuh harapan. Kematian Kristus dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan kembali manusia dengan Allah melalui pengampunan yang tak terhingga nilainya.
Keseluruhan perayaan ini ditutup dengan komuni yang diambil dari hostia yang telah dikonsekrasi pada misa Kamis Putih sebelumnya. Umat kemudian meninggalkan gereja dalam keheningan total tanpa adanya nyanyian atau iringan musik apa pun untuk merenungkan wafat Sang Juru Selamat.













Discussion about this post