JAMBI, Reportase8.com – Pengamat Politik kenamaan Jambi Dr Noviardi Ferzi menilai, tampilnya sosok Diza Hazrin Nurdin seolah mempertebal pragmatisme politik di Pilwako Jambi November 2024 nanti.
Hal ini dikarenakan sosok Diza Hazrin Nurdin nama yang relatif baru muncul dalam kontestasi Pilwako Jambi 2024.
Masih segar dalam memori publik, ketika Maulana belum memutuskan Diza sebagai calon wakil yang akan mendampinginya telah menimbang sosok lain sebagai wakil, sudah belasan nama yang muncul sebagai bakal calon yang mendampingi dirinya.
Bahkan, di antara mereka sudah terlihat aktif mensosialisasikan diri melalui baleho dan bilboard. Namun, impian mereka harus terhenti ketika Maulana memilih Diza untuk mendampinginya.
“Dugaan kita pilihan ke Diza tentu bukan karena elektabilitas atau resprentasi partai tertentu, tapi lebih pada hal-hal pragmatis mempersiapkan hari pemilihan, di sini seolah ada praktek kamar gelap memperjual belikan posisi wakil,” ungkapnya di Jambi, Sabtu (6/6/2024) kemarin.
Hal ini, menurut Noviardi seolah memvalidasi berita sumir di masyarakat bahwa ada calon tertentu yang meminta mahar hingga 20 miliar rupiah untuk posisi bakal calon wakil wali kota.
Indikasi ini menurutnya terlihat dari nama Diza Hazrin Nurdin tidak tercatat pernah mendaftar di partai apapun kemarin di Kota Jambi.
Selain itu, yang bersangkutan tidak memasang alat peraga apapun, lalu, ia juga tidak melakukan sosialisasi apapun selazimnya para calon kepala daerah yang akan maju.
Sehingga, Noviardi menilai majunya yang bersangkutan tak lebih dari konstruksi pragmatis politik yang transaksional dibanding proses politik yang etis dalam mewujudkan satu pasang calon.
“Politik itu etis itukan pembelajaran demokrasi, indikasinya bisa dinilai dari lahirya seorang calon, ada pendaftaran, ada APK dan barang kontak dan ada sosialisasi untuk meningkatkan Popularitas, Akseptabilitas dan Elektabilitas yang bersangkutan. Namun, ketika faktor finansial transaksional dikedepankan, proses pembelajaran ini ditiadakan. Seolah ada teori mau maju transaksional saja,” jelas Noviardi.
Ketika ditanya majunya Diza mewakili Milenial, pengamat yang dikenal kritis itu mengapresiasi majunya anak muda dari milenial dan Gen Z maju di kontestasi Pilwako.
Hanya saja, tak ada jaminan milenial akan memilih milenial. Buktinya, salah satu hasil penelitian dari dari lembaga Riset Fox Populi justru kami menemukan, meski sama-sama muda, kedua generasi ini punya banyak perbedaan.
“Generasi Z, sebagai pemilih pertama, membawa harapan tinggi terhadap pemimpin yang netral dan pro-rakyat. Sementara milenial lebih pragmatis, mereka menilai pemimpin berdasarkan kemampuan ekonomi dan jaminan kesejahteraan,” ujarnya.
Sebagai pemegang suara terbesar, kata Noviardi, pendapat Gen Z dan milenial sangat berpengaruh dalam Pilkada 2024 dan meski memiliki pandangan yang berbeda, keduanya mengharapkan pemimpin dengan integritas, visi yang jelas, dan memiliki kemampuan memecahkan masalah.
“Jika, ini tak bisa dipersepsikan oleh Diza maka isu mienial yang ia tunjukkan tak akan membawa dampak eletoral,” pungkasnya.(*)













Discussion about this post