ARTIKEL – Kepada Dosen Teologi Moral, Peter Bernard Kieser SJ, Trilogi ini kami anamnesekan/mengingatkan/Erinnerung-kan. Koq!? Yah, karena acap kali bersoal tentang SUARA HATI, diri ini selalu ingat akan penekanan beliau tentang Trilogi ini (dari tahun 1980-an).
Orang bertindak moral, tidak lepas dari KEBEBASAN atawa FREEDOM. Kita mau “nyaleg”, mau “nyoblos”, mau “nikah” atau “ngejomblo”…tidak lepas dari potensialitas hakiki, yang disebut KEBEBASAN/FREEDOM. Cuma dimiliki oleh manusia? Atau ciptaan lain non-human juga memilikinya? Selalu rasional atau merupakan perpaduan dengan PENGHENDAKAN bin WILL/URGE/COURAGE? Itulah, FREEDOM tanpa WILL, tanpa COURAGE, menjadi tidak lengkap. Pepatah menegaskan “Besar pasak daripada tiang”; tidak sampai pada POWER/KEKUATAN MORAL untuk “Move-on”.
Dan ini mesti autonome, mandiri dan bukan karena dorongan lian alias heteronome. Disebut memiliki kedewasaan moral, saat orang berani mengambil keputusan moral yang mandiri, meskipun dia ditentang/dilawan oleh seluruh warga, oleh ayah-ibu, oleh pembimbingnya, dst. dst. Karenanya untung-ruginya ditanggung sendiri. Dia siap dengan ACCOUNTABILITAS MORAL SUARA HATINYA. Trus, cuma sampai di sini?
Bukan cuma sampai di sini, tetapi Trilogi Keputusan SUARA HATI, memang mesti menjadi “sekuen”, urutan peristiwa yang tidak bisa tidak mesti dilalui secara lengkap. “You mau keluar rumah untuk menjumpai teman yang membutuhkan bantuan. Meskipun hujan, petir, jalannya becek…demi nilai ‘membantu temanmu’, you tetap bulat mengambil keputusan, sungguh mempunyai ‘courage’ demi nilai ‘membantu teman’. Orang kasih komentar, “kamu ngotot, keras-kepala, ndhendheng yen dikandani, dlsb.” Yah monggo!lah, karena konsekuensi dari Trilogi -FREEDOM-POWER-ACCOUNTABILITY- membawa orang bulat sampai mati.













Discussion about this post