Coming Home (Heimat und Mission), no. 373, “Idul Qurban > Kurban Abraham/Ibrohim > TANDA KASIH TOTAL kepada ALLAH Sang Pemilik segalanya > METERAI PERJANJIAN timbal-balik antara ALLAH dan UMAT-NYA.”
Berangkat dari yang “banal” coraknya > Otentisitas surat berharga, yang menyatakan kebenaran/keaslian, ketulusan, keabsyahan ditandakan dengan ruang & waktu – tempat dan tanggal – meterai, tanda-tangan atau cap jempol, dari pihak si pembuat pernyataan kepada si penerima pernyataan. Yang begini ini lazim.
Jika yang menghendaki itu Sang Pencipta, Sang Pemilik segalanya dengan Abraham, atau Ibrohim, di kala itu bukan dalam bentuk SURAT PERJANJIAN, seperti sekarang kita kenal, tetapi KURBAN BAKARAN berupa HEWAN (lembu, kambing, domba, burung…).
Lebih mendalam alias menukik ke dalam kalbu, hati, jiwa…ada tuntutan TOTAL yang dikehendaki Sang Pencipta/Pemilik. Jika hidup ini berasal dari DIA, dan kekayaan ternaknya, yang konon ada 12.000 ekor, masak tidak mau juga MENGORBANKAN ANAKNYA (ada dua versi: Yahudi + Kristen > ISHAK; Islam > ISMAIL).
Ujian akan KETULUSAN, akan TOTALITAS KASIH kepada Sang Pencipta/Pemilik, telah pernah dipenuhi oleh Bapa Abraham/Ibrohim. Meskipun tidak jadi dilakukan, karena di-STOP oleh Allah, yang niatNya menghendaki bukti. Ya, siwlah!
Di jaman “now”? RITUAL KURBAN dilakukan secara berulang di di dalam ruang dan waktu, mengingat atau mengenang apa yang dilakukan oleh Bapak Abraham dan semua keturunannya (Yahudi, Kristen & Islam). Apakah intensinya, motivasinya, sungguh merupakan TANDA KASIH TOTAL kepda ALLAH Sang Pemilik segalanya, sebagai TANDA PERJANJIAN timbal-balik antara ALLAH dan UMAT-Nya? (Pada tataran ini ukuran tulus, total, genuine, asli, sepenuhnya, dlsb. atau sekedar memenuhi kewajiban, atau “biar dilihat orang lain” bahwa tidak menyimpang, dlsb. ada di dalam integritas masing-masing individu dan komunitas beriman).
Abraham/Ibrohim > TANDA KASIH TOTAL kepada ALLAH Sang Pemilik segalanya > METERAI PERJANJIAN timbal-balik antara ALLAH dan UMAT-NYA”, bukan lagi dimaterialisasikan dalam bentuk Kurban Binatang Ternak, tetapi di dalam dan oleh ALLAH yang menjelma menjadi MANUSIA, YESUS KRISTUS yang kesohor sebagai ISA AL MASIH, Jesus von Nazareth, PUTRA ALLAH BAPA. Koq!? Si ANAK DOMBA menjadi ANAK DOMBA ALLAH, yang sekali mengorbankan DIRI dengan cara DISALIBKAN, DIA menjadikan DIRINYA TANDA PERJANJIAN BARU.
Yang LAMA, ya kurban bakaran model Kurban Abraham/Ibrohim; yang BARU, ya model YESUS KRISTUS, yang memberikan TUHUH dan DARAH-NYA yang memuncak dengan cara wafat di kayu salim di atas gunung Golgota. ALLAH yang berkenan akan kurban yang demikian ini memulihkan DIA dengan cara MEMBANGKITKAN DIA dari MATI. Dia Sang Pencipta, Sang Pemili Kehidupan, dengan DAYA ROH ILAHI-NYA menghidupkan kembali YESUS KRISTUS, SANG ALMASIH.
KASIH TOTAL dengan mempersembahkan diri kita kepada Allah – menjadi martir-kah? Hidup Selibat-kah? Mencintai dan melayani seperti Yesus telah memberi teladan? Dengan cara menjadi SILIH atau PENGGANTI dari orang-orang yang hina-dina, yang kepada mereka ini Yesus Kristus telah dan masih terus menerus menaruh HATI (Mateus 25:40).
Jelas yang begini ini tidak cukup diungkapkan dengan Yel-2 melalui pertemuan massal yang hingar bingar penuh euforia.
“Selamat merayakan Ritus Idul Adha, Idul Qurban, untuk Saudara-saudara-ku Muslim-Muslimah di manapun saja.”
Untuk yang menerima Yesus Kristus sebagai Kurban Perjanjian Baru dan Kekal, ayoo kita rayakan Kurban Ekaristi Kudus yang selalu dirayakan kapan saja, dari terbitnya Matahari sampai terbenamnya. Obyek kurbannya bukan lagi herwan ternak, tetapi roti-anggur yang diubah oleh kuasa Roh Kudus, menjadi TUBUH dan DARAH Yesus, Sang ANAK DOMBA Allah.”
[Pater Hadrianus Wardjito SCJ, 28 Juni 2023]













Discussion about this post