Reportase8.com, Sport – Sejumlah penggemar sepak bola dari berbagai belahan dunia menuding adanya kontroversi dalam penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) pada pertandingan Argentina melawan Mesir di babak 16 besar Piala Dunia, Selasa malam. Mereka menilai keputusan tersebut memberi “nafas baru” bagi Argentina untuk bangkit dan membalikkan keadaan.

Surat kabar Mirror, dalam laporan pascapertandingan mengenai kontroversi tersebut, menulis bahwa Argentina yang dipimpin Lionel Messi merupakan salah satu daya tarik utama Piala Dunia. Saat menghadapi Mesir di babak 16 besar di Atlanta, sebagian pendukung menuding Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) berupaya menjaga salah satu bintang terbesar turnamen itu tetap bertahan di kompetisi.
Sebelum melakukan comeback dan menang 3-2, Argentina sempat tertinggal. Messi gagal mengeksekusi tendangan penalti pada awal laga, kemudian Mesir unggul 1-0. Tak lama berselang, Mohamed Salah memberikan umpan kepada Mustafa Zico yang berhasil mencetak gol kedua bagi tim berjuluk Firaun.
Namun, setelah perayaan gol tersebut, wasit François Letexier menerima sinyal dari ruang VAR untuk meninjau kemungkinan adanya pelanggaran pada awal proses terjadinya gol.
Setelah meninjau tayangan ulang, wasit memutuskan menganulir gol tersebut karena menilai bek Argentina, Lisandro Martínez, dilanggar pada awal serangan. Keputusan itu menuai sorotan karena insiden yang diperiksa terjadi lebih dari 20 detik sebelum Zico mencetak gol ke gawang Emiliano Martínez.
Kontroversi berlanjut ketika pelatih Mesir, Hossam Hassan, mendapat sanksi akibat melakukan gestur yang dinilai melanggar aturan. Seusai pertandingan, ia mengecam keputusan wasit dan menyebut timnya menjadi korban ketidakadilan, terutama terkait pembatalan gol tersebut.
Zico akhirnya kembali mencetak gol enam menit kemudian. Namun, keputusan VAR sebelumnya telah memicu gelombang kritik di media sosial, terutama di platform X.
Seorang pengguna X menulis, “Turnamen ini direkayasa. Korupsi mencuri gol Mesir di hadapan semua orang.”
Pengguna lain menulis, “Dicurangi seperti biasa,” sementara komentar lain berbunyi, “Piala Dunia ini dicurangi demi Messi.”
Argentina kemudian menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui gol spektakuler Messi. Pada masa injury time, Enzo Fernández mencetak gol kemenangan yang memastikan Argentina menang 3-2 sekaligus menyingkirkan Mesir dari turnamen.
Seandainya gol pertama Zico tidak dianulir, Mesir diperkirakan masih memimpin jalannya pertandingan.
Keputusan VAR tersebut juga memicu perdebatan di kalangan jurnalis sepak bola internasional mengenai penerapan teknologi video dalam pertandingan.
Rob Harris dari Sky Sports menilai pembatalan gol itu memang sesuai dengan ketentuan VAR, tetapi mempertanyakan sejauh mana teknologi tersebut seharusnya digunakan.
“Pembatalan gol Mesir sesuai dengan peraturan VAR. Namun, teknologi dalam sepak bola tidak diciptakan untuk menelusuri permainan sejauh itu hanya untuk meninjau pelanggaran kecil yang tidak berkaitan langsung dengan fase akhir serangan balik,” ujarnya.
Sementara itu, Dale Johnson menilai keputusan tersebut tidak sejalan dengan standar penerapan VAR sepanjang turnamen.
“Gol Mesir yang dianulir bertentangan dengan cara pertandingan di turnamen ini dijalankan. Anda tidak bisa membiarkan kontak fisik ringan tanpa pelanggaran, lalu menganulir gol melalui VAR hanya karena ada tarikan kecil pada jersey,” tulisnya.
Jurnalis senior Henry Winter turut mengkritik keputusan itu dengan nada sarkastis.
“Seandainya VAR mundur satu langkah lagi dalam serangan Mesir itu, mungkin mereka akan menemukan Tutankhamun ikut terlibat. Seberapa jauh lagi bisa mundur? Mungkin keputusan itu benar menurut aturan, tetapi sangat disayangkan. Padahal itu berpotensi menjadi salah satu gol terbaik di turnamen ini setelah serangan sekitar 80 yard yang dibangun dengan pergerakan dan umpan yang luar biasa,” tulisnya.












Discussion about this post