JAMBI, Reportase8.com – Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada semakin hari semakin dekat, diketahui pesta demokrasi rakyat tersebut akan diselenggarakan pada Bulan November 2024 secara serentak. Di Pilwako Jambi telah tampak kandidat kandidat yang akan maju di kontestasi seperti H. Abdul Rahman, Budi Setiawan dan dr. Maulana.
Sedangkan untuk pendamping masing masing bacalon Walikota Jambi 2024 hingga saat ini masih menjadi pertanyaan publik, beberapa waktu belakangan santer memberitakan salah satu Bacalon berpindah pindah mencari pasangan.
Dengan fenomena pendekatan salah satu Bacalon kepada beberapa kandidat yang belum pasti untuk menjadi pendamping atau wakilnya, menurut salah satu pengamat Angga, SH, MH, hal tersebut biasa.
“Melakukan pendekatan kepada siapa pun untuk menjadi pasangan dalam pilkada adalah hal biasa, namun Bacalon harus menghargai etika politik dan harapan, dikala etika politik dan harapan itu diabaikan maka akan menjadi “boomerang”untuk Bacalon Walikotanya”, ungkapnya. Senin, (10/06/2024)
Angga juga menjelaskan bahwa Aktivitas politik dalam konteks “pamer” dalam mencari pasangan memang merupakan hal lumrah yang terjadi, mengingat politik adalah seni pengaturan untuk mendapatkan kekuasaan. Dinamisasi politik menjadi hal yang tidak tabu, bahkan sering terjadi. “ Pamer” bakal calon pasangan adalah realita politik yang ada, tetapi perlu diwaspadai sikap “ pamer” pasangan yang notabene orang tersebut telah dipublikasikan secara umum melalui media, karena hal ini dapat menimbulkan suatu pengharapan. Namun, ketika orang tersebut tidak jadi, seringkali melukai hati orang yang terlibat di dalamnya
“Politik “pamer pasangan “ yang belum pasti ke publik menjadi lumrah dan sesuatu yang sering dipertontonkan. Meskipun demikian, cara berpolitik seperti ini bertentangan dengan etika politik yang seharusnya dijunjung tinggi. Orientasi dan tujuan politik yang semata-mata mengarah pada penguasaan kekuasaan memberikan dampak negatif bagi pendidikan politik pada masyarakat. Akibatnya, penegakan prinsip-prinsip moral dalam politik melemah, dan segala cara dianggap sah untuk mencapai tujuan politik tertentu, bahkan hingga mempertontonkannya kepada masyarakat yang memberikan nilai buruk tersendiri“ pungkasnya.













Discussion about this post