JAMBI – Pembangunan fisik Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Putri Pinang Masak di Kota Jambi telah rampung. Namun, taman yang menelan anggaran hingga Rp35 miliar itu justru terlihat sepi pengunjung. Sejumlah fasilitasnya juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Taman yang berlokasi di samping Pasar Angso Duo Jambi tersebut dirancang sebagai ruang publik sekaligus sarana rekreasi bagi masyarakat dan keluarga.
Berbagai fasilitas telah dibangun, mulai dari jalur pedestrian, taman, air mancur, bangku santai, hingga lintasan bermain skateboard. Namun, keberadaan fasilitas tersebut belum mampu menarik minat masyarakat secara optimal.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Sabtu (24/10/2026) sore, jumlah pengunjung yang terlihat hanya sekitar 10 orang. Aktivitas masyarakat di kawasan taman terpantau terbatas. Minimnya pedagang yang berjualan turut membuat suasana taman terkesan kurang hidup.
“Fasilitasnya sudah cukup bagus untuk dikunjungi. Tapi, belum tersedia wahana bermain yang memadai bagi anak-anak, jadi belum bisa dinikmati secara maksimal,” ujar Wandi (40), warga Kota Jambi.
Ia menyayangkan kondisi taman yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, terlebih dengan besarnya anggaran yang telah dikucurkan untuk pembangunan.
“Kami juga menyayangkan, kenapa taman yang bagus justru sepi dan terlihat terbengkalai. Banyak fasilitas yang rusak,” katanya.
Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik, Nasroel Yasier, menyoroti aspek pemeliharaan ruang terbuka hijau yang dinilainya perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Menurutnya, pembangunan RTH kerap menyerap anggaran besar, tetapi pengelolaan dan perawatan fasilitas belum tentu berjalan secara merata dan berkelanjutan.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat diibaratkan seperti pepatah, “Hidup segan, mati pun tak mau”. Taman yang telah dibangun dengan biaya besar berisiko kehilangan fungsi apabila tidak diimbangi pemeliharaan dan pengelolaan yang memadai.
Ia menilai, perhatian pemerintah sering kali lebih terpusat pada pembangunan fisik dan estetika kota, tanpa diimbangi perencanaan pemeliharaan jangka panjang yang jelas.
Pola pembangunan yang terlalu berorientasi pada proyek fisik berisiko membuat keberhasilan hanya diukur dari rampungnya pekerjaan, sementara keberlanjutan fungsi fasilitas kurang mendapat perhatian.
Padahal, tanpa perawatan rutin, pengawasan, petugas yang memadai, serta dukungan anggaran pemeliharaan, fasilitas taman berpotensi cepat rusak dan tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Kondisi Taman Putri Pinang Masak pun memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pemanfaatan anggaran publik. Pembangunan ruang terbuka hijau semestinya tidak berhenti pada penyelesaian proyek fisik, tetapi juga harus memastikan fasilitas tetap terawat, aman, nyaman, dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jambi diharapkan segera mengevaluasi pengelolaan taman tersebut, mulai dari kondisi fasilitas, kebersihan, pemeliharaan, hingga strategi meningkatkan daya tarik pengunjung.
Dengan demikian, anggaran puluhan miliar rupiah yang telah digelontorkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan pembangunan fisik tanpa pemanfaatan yang optimal.












Discussion about this post